Geruduk Gedung Sate, Aliansi Pandawa Lima, Agus Satria, “Ketahanan Pangan Jabar Bukan Sekedar Jargon””

Geruduk Gedung Sate, Aliansi Pandawa Lima, Agus Satria, “Ketahanan Pangan Jabar Bukan Sekedar Jargon””

www.penaaksara.com

Bandung,  – Ketahanan pangan menjadi salah satu isu strategis di Jawa Barat. Dengan populasi yang terus bertambah dan kebutuhan pangan yang semakin kompleks, sektor hortikultura–mencakup tanaman sayur, buah, kacang-kacangan, dan umbi – memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan bahan pangan.

Diversifikasi pangan berbasis hortikultura tidak hanya menyediakan gizi yang lebih beragam, tetapi juga menjadi penopang ketahanan pangan nasional. Siklus tanam-panen yang relatif cepat membuat hortikultura mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada beras.

Di tengah urgensi tersebut, sejumlah elemen masyarakat menilai perlu adanya pengawasan ketat terhadap program-program pemerintah di sektor pangan. Dukungan publik terhadap gerakan kontrol sosial dianggap penting agar transparansi dan akuntabilitas benar-benar terwujud.

Berdasarkan angka tetap 2025, luas panen padi di Jawa Barat mencapai 1,76 juta hektare, meningkat 0,28 juta hektare atau 18,97 persen dibandingkan luas panen padi 2024 yang tercatat sebesar 1,48 juta hektare.

Peningkatan luas panen tersebut berdampak langsung pada melonjaknya produksi padi dan beras di Jawa Barat. Penghitungan produksi padi dilakukan menggunakan metode terintegrasi yang mengombinasikan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) untuk memperoleh data luas panen dan survei ubinan untuk mengukur produktivitas tanaman padi.

Menurut Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Jawa Barat, bahwa secara wilayah, Kabupaten Indramayu masih menjadi daerah dengan lahan baku sawah (LBS) terluas di Jawa Barat.

Aliansi LSM dan Ormas Pandawa Lima Jawa Barat yang gelar aksi di Gedung Sate pada Rabu, 4 Februari 2026, disebut sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawal kebijakan dan memastikan bahwa program ketahanan pangan di Jawa Barat berjalan sesuai tujuan.

“Ketahanan pangan bukan sekadar jargon. Pemerintah harus memastikan setiap program benar-benar berpihak pada rakyat,” ujar Agus Satria, dari Aliansi Pandawa Lima.

Aliansi LSM dan Ormas Pandawa Lima Jawa Barat menilai, momentum ini menjadi spirit pengawasan bahwa ketahanan pangan adalah isu bersama. Dukungan publik terhadap gerakan pengawasan dan partisipasi masyarakat sangat diperlukan agar Jawa Barat mampu menjaga keberlanjutan pangan sekaligus memperkuat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.

Menurut informasi yang diperoleh dari Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Jawa Barat, bahwa secara wilayah, Kabupaten Indramayu masih menjadi daerah dengan lahan baku sawah (LBS) terluas di Jawa Barat. Luas LBS Indramayu tercatat mencapai 126.088 hektare, disusul Kabupaten Karawang seluas 100.016 hektare dan Kabupaten Subang sebesar 91.797 hektare.

Luas panen yang dihasilkan pada setiap subround di 2025 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2024, secara periodik, peningkatan paling signifikan terjadi pada Subround 1, dengan kenaikan luas panen mencapai 38,54 persen atau sekitar 0,16 juta hektare dibandingkan Subround 1 tahun 2024, pada Subround 2 terjadi peningkatan 10,72 persen atau 0,06 juta hektare, dan pada Subround 3 naik sebesar 12,26 persen atau 0,05 juta hektare dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tak hanya capaian realisasi, potensi luas panen padi Jawa Barat pada awal 2026 juga menunjukkan prospek cerah.

Berdasarkan hasil pengamatan fase tanaman padi melalui Survei KSA pada Desember 2025, potensi luas panen padi selama Januari hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai 0,42 juta hektare.

“Kami Aliansi LSM dan Ormas Pandawa Lima Jawa Barat, datang untuk memberi peringatan dini, sejauhmana Pemerintahan Jawa Barat berkomitmen dengan Ketahanan pangan dan berpihak pada rakyat” ujar Agus Satria menutup pembicaraan.

penaaksara.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *